Ketahuan Menikah, Siswa SMAN 7 Tangerang Dikeluarkan

Selasa, 02 April 2013 12:14 wib | Isnaini - Okezone

Ketahuan Menikah, Siswa SMAN 7 Tangerang Dikeluarkan Ilustrasi (Dok Okezone) JAKARTA - Seorang siswa kelas XII SMA Negeri 7 Tangerang terancam tidak dapat mengikuti Ujian Nasional (UN) karena dikeluarkan dari sekolah setelah diketahui menikahi seorang gadis.
 
Sudirman (18), mengadukan perlakuan tidak adil yang diterimanya ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada Selasa (2/4/2013). Sudirman mengaku dirinya dikeluarkan dari sekolah dan juga dilarang mengikuti UN karena dinilai telah melanggar peraturan sekolah yang melarang siswanya menikah selama dalam masa pendidikan.
 
"Saya telah menikah secara siri, karena sebelumnya saya telah menghamilinya, saya mengaku salah, namun kenapa saya harus dikeluarkan dan tidak boleh mengikuti ujian?" ujar Sudirman saat konfrensi pers di Kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
 
Sudirman tidak terima dikeluarkan karena ia menilai pihak sekolah telah tebang pilih terhadapnya. Warga Kampung Pekong, Desa Saga, Kecamatan  Balaraja, Tangerang itu menuturkan, status menikah juga disandang oleh seorang murid lain di sekolahnya. Namun pihak sekolah tidak mengeluarkan murid tersebut dengan alasan tidak mengetahui tentang pernikahannya itu.
 
"Bukan hanya saya, di sekolah itu ada yang sudah terbukti punya anak dan istri, tapi dia tidak dikeluarkan hanya karena dia punya saudara guru di situ, sekolah beralasan tidak tahu tentang pernikahannya itu," ungkapnya.
 
Dijelaskan Sudirman, dirinya sempat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) yang digelar pada awal Maret, namun baru dua hari ia mengikuti ujian tersebut, secara sepihak dan tiba-tiba pihak sekolah mengirimkan surat kepada orangtuanya yang menyatakan Sudirman telah dikeluarkan.
 
"Saya sudah ikut UAS dua hari, sudah bayar uang SPP Rp500 ribu, mereka menerima pembayaran SPP saya, tapi tiba-tiba saya dikeluarkan dan tidak boleh ikut ujian lagi, uang SPP saya kemudian dikembalikan," papar pemuda yang menikahi Eva (17) siswi SMAN 19 Tangerang yang juga bernasib sama yakni dikeluarkan dari sekolah.
 
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengecam keras tindakan sepihak yang dilakukan pihak sekolah dengan melarang Sudirman untuk mengikuti UN. Menurutnya pihak sekolah seharusnya tidak memutuskan hak seseorang untuk mendapatkan pendidikan sekalipun ia telah melanggar peraturan.
 
"Tata tertib itu melanggar undang-undang, mestinya tidak ada yang boleh menghentikan hak anak untuk mendapat pendidikan, mereka boleh memberi sanksi seperti skors atau sanksi lain, namun mereka tidak punya hak memutuskan seseorang untuk mendapatkan pendidikan, itu hak setiap anak, kami menolak apapun alasannya, anak yang terlibat tindak pidana pun tidak akan hilang hak pendidikannya," tegas Arist.
(ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »