Preman Jangan Diberantas, tapi Dibina

Rabu, 13 Maret 2013 08:43 wib | Aisyah - Okezone

anak buah Hercules (Foto: Awaludin/Okezone) anak buah Hercules (Foto: Awaludin/Okezone) JAKARTA - Penambahan jumlah preman baik di Ibu Kota Jakarta maupun daerah lainnya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Jika situasi ekonomi sulit, maka dipastikan jumlah preman bertambah. Demikian dikatakan Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Erlangga Masdiana.

Menurutnya, demoralisasi sebagai salah satu indikator terjadinya peningkatan premanisme di Indonesia.

Dia tidak menampik jika aparat memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan para preman. Disatu sisi, preman dibutuhkan polisi untuk menangkap penjahat. Namun, disisi lain, preman pun butuh uang untuk menghidupi dirinya.

Erlangga menjelaskan, preman sendiri merupakan potret abu-abu dari masyarakat. Terkadang preman digunakan untuk kepentingan oknum tertentu. Menurut dia, preman tidak perlu diberantas, namun perlu ada kanalisasi.

"Pemerintah harus bisa membangun mental preman sebagai warga Indonesia. Mereka harus diberikan keterampilan hidup," kata dia kepada Okezone, di Jakarta, Selasa (12/3/2013) kemarin.

Selain itu, lanjutnya, mereka para preman tersebut harus diaktifkan dalam kegiatan positif agar mereka tidak berkelakuan urakan yang menjurus kriminal. Sepatutnya, mereka diberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

"Untuk menciptakan ketertiban, kesadaran hukum enggak cukup sosialisasi, tetapi harus ditunjukkan dan dipraktekkan," kata Erlangga.

Terkait dengan penangkapan Hercules Rozario Marshall, Erlangga mendukung proses hukum yang sedang berjalan. "Kalau memang itu serius, saya dukung. Asal jangan ada kepentingan untuk oknum tertentu. Kalau itu fair, saya kira hukum tetap harus dijalankan," tutupnya. (put)
(ded)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป