Rencana pembangunan kilang baru harus well planned

Jum'at, 15 Juni 2012 15:57 wib | Slamet Riadi - Sindonews

Ilustrasi Ilustrasi

Sindonews.com - Rencana pemerintah yang akan membangun kilang baru yang disampaikan oleh Dirjen Migas Evita Legowo, sebenarnya memang harus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Namun dari berbagai hal yang dikatakan pemerintah sebagai hambatan, justru banyak hal penting sebagai fondasi perencanaan jangka panjang yang terabaikan.

"Beberapa pertanyaan mendasarnya harus segera di tetapkan dulu oleh pemerintah," tutur Anggota komisi VII, Dewi Aryani dalam siaran persnya, Jumat (15/6/2012).

Menurutnya, harus diperjelas terlebih dahulu siapa yang nantinya menjadi operator atau pemiliknya, bisa saja  meminta Pertamina sehingga nantinya menjadi bagian dari aset Pertamina.

Selain itu, sambung Dewi, dari mana crude oil-nya? Sementara negara  yang punya spare capacity saat ini adalah Iran dan Venezuela. Biaya feasibility study yang mahal dan mencapai Rp1 triliun harusnya menghasilkan kajian yang paten, tidak main-main dan benar-benar doable.

"Sebelum dilakukan hal-hal mendasar, perlu ditetapkan dulu. Di dunia hanya ada 3 besar perusahaan yang mampu melakukan feasibility study menyeluruh, yaitu Chevron, Lurgi, BP atau Shell Refining Technology. Seperti beli hak paten ke perusahaan raksasa ini" ucapnya.

Politisi PDI perjuangan ini menegaskan, jika pemerintah serius membangun kilang dengan skala besar, tentunya harus diawali dengan kunjungan kepala negara ke negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait dan Irak. "Nah, yang jadi pertanyaan kapan Presiden SBY ada rencana mau datang ke empat negara ini dalam waktu dekat?," kata dia.

Dewi menambahkan, seharusnya Indonesia bisa belajar dari Singapore, meskipun negaranya kecil tapi kilangnya mendapat guarentee supply terutama dari Riau, dari BP dan Shell dengan ladang minyaknya di mana-mana.

"Kapisitas kilang mereka yang sekian BPD itu sudah jelas mulai transport pakai VLCC (kompartemen) dan lain-lain, sehingga kiangnya fully utilized sepanjang tahun," jelasnya.

jaman orde baru patut dijadikan pelajaran, pasalnya waktu itu pernah dikeluarkan 37 izin bangun kilang, termasuk 3 program untuk pertamina EXXON. Namun hanya 1 yang jadi yaitu kilang Balongan. "Milik Humpuss pun kapasitas 10.000 barel/day sekarang mangkrak saja di Cepu, belum jelas statusnya padahal crude sudah ada komitmen dari ladang Cepu", tandas Dewi. (bro)



(Slamet Riadi/Sindonews/hri)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป