Sukses bisnis bubur bayi, beromzet puluhan juta

Minggu, 27 Mei 2012 10:59 wib | (koran Sindo) - Koran SI

Sukses bisnis bubur bayi, beromzet puluhan juta foto nasi tim salah satu produk Bebi-Luck, doc bebiluck.com Sindonews.com - Hanya dengan modal Rp200.000, pemilik usaha bubur bayi Bebi-Luck kini berhasil mengantongi omzet Rp80 juta per hari. Hebatnya lagi, bisnis yang dikelola oleh Nadya Juwita Ayu itu baru berjalan tiga tahun.

Besarnya omzet yang diperoleh Nadya, jelas bukan datang begitu saja. Tentu ada usaha dan kerja keras saat memulai usaha, hingga dia memiliki ratusan gerai dalam skema franchise. Nadya sendiri tidak menyangka bisnis yang diawali dari sebuah warung kecil di depan rumahnya ini berkembang pesat. Hingga akhir tahun lalu, Bebi-Luck berubah menjadi ritel berkonsep waralaba dengan 200 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Saat ini outlet yang paling banyak berada di Jabodetabek sekitar 150 outlet, dan di Jawa Timur sekitar ada 15–20 outlet,” kata Nadya saat ditemui di rumahnya, di kawasan Ciledug, Tangerang, Banten, belum lama ini.

Ide awal Nadya membuka bisnis ini rupanya didasarkan pada pengalamannya sebagai seorang ibu. Gagasan bisnisnya muncul tatkala ibu tiga anak ini menyuapi anaknya. Saat itu dia merasa memiliki masalah yang sama dengan ibu-ibu kebanyakan, yaitu perilaku buah hatinya yang susah makan.

Karena tidak memiliki latar belakang tata boga, Nadya mencoba berbagai cara membuat aneka makanan bayi. Dia lalu memanfaatkan informasi dari internet. Termasuk trik agar makanan rumahan bisa disukai bayi, namun tetap aman dikonsumsi.

Melalui pembelajaran secara autodidak itulah, Nadya menemukan cara bagaimana membuat makanan yang disukai si kecil. Mulanya dia menyajikan makanan hasil olahannya untuk anaknya sendiri. Setelah beberapa bulan, sejumlah tetangganya tertarik mencoba dan kemudian memesannya dari Nadya.

Tanpa diduga, anak-anak tetangganya ternyata menyukai makanan buatan Nadya. ”Itulah pengalaman pertama yang menjadi ide saya dalam membuka bisnis ini,” kata istri Lutfiel Hakim ini.

Seiring berjalanannya waktu, Nadya berpikir bahwa harus mengembangkan bisnisnya. Dia kemudian memilih format waralaba sebagai sarana memperbesar skala usahanya. Dalam waktu relatif singkat, bisnis Bebi-Luck menyebar ke penjuru Pulau Jawa.

Nadya mengakui, awal membuka bisnis ini hanya ada enam gerai di Jakarta dan sekitarnya. Berkat kerja kerasnya dibantu sang suami, hingga pertengahan 2011 bisnisnya meningkat pesat hingga Nadya memiliki 50 gerai. Dia lalu menyebarkan bisnisnya ke daerah lain mengandalkan jaringan yang dikenalnya. Gerainya pun tidak tanggung-tanggung hingga menyebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Blitar, Surabaya, bahkan sampai Madura.

Menurut Nadya, ada keunikan dari bisnis yang ditekuninya saat ini. Dia mengutamakan kesehatan, terutama untuk bayi, dengan menggunakan bubur bayi dari organik. Nadya mengolahnya menjadi bubur lengkap dengan aneka variasi menu, agar bayi tidak bosan dan meningkatkan nafsu makan.

Keamanan konsumsi dan kesehatan selalu menjadi perhatian utama Nadya. Apalagi, makanan yang dibuatnya dikonsumsi bayi yang notabene masih rentan jika ada kandungan bahan yang tidak sesuai dengan standar kesehatan. ”Ini yang menjadi perhatian kami,” ujar perempuan lulusan sastra Jepang dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu.

Buktinya, ujar dia, hingga saat ini tidak ada pembeli yang mengeluh atau protes terhadap makanan bayi yang dibuatnya. Kalaupun ada, pernah sekali waktu ada bayi yang alergi pada salah satu bahan makanan. Namun,hal itu langsung diantisipasi Nadya mengganti bahan makanan dengan bahan lainnya.

Nadya mengaku, untuk menjadi mitra waralaba Bebi-Luck juga relatif murah. Cukup dengan investasi Rp8,5 juta. Dia juga menjamin waktu kerjanya yang singkat karena ratarata hanya dua jam sehari.”Kami menjamin dalam waktu tiga bulan, akan balik modal,” katanya. (ank)



( (koran Sindo)/Koran SI/hri)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »