Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Pernah Dicap PKI

Rabu, 23 Mei 2012 11:08 wib | Stella Chrisfanni - Okezone

Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Pernah Dicap PKI Henk Ngantung (Foto: Istimewa) Siapa saja Gubernur DKI Jakarta yang Anda ketahui? Ali Sadikin, Sutiyoso, atau Fauzi Bowo, gubernur Jakarta saat ini. Mungkin tak banyak yang tahu dengan sosok Hendrik Hermanus Joel Ngantung alias Henk Ngantung. Dia adalah seorang pelukis yang ditunjuk Presiden Soekarno untuk memimpin Jakarta.

Putra Kawanua kelahiran 1 Maret 1921 ini menjadi gubernur Jakarta sejak 27 Agustus 1964 hingga16 Juli 1965. Sebelum terjun ke dunia politik, Ngantung adalah seniman sketsa otodidak yang telah mengabadikan sejumlah peristiwa penting selama pergerakan kemerdekaan, dalam bentuk lukisan sketsa. Sebut saja perjanjian Linggarjati dan Perundingan Kaliurang, Yogyakarta.

Pelukis adalah cita-citanya sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Hingga beranjak remaja Ngantung bertemu dengan sejumlah pelukis kenamaan seperti Affandi dan tokoh lukis lain yang tergabung dalam Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Organisasi ini merupakan gerakan nasionalisme di bidang seni rupa.

Di awal 1940-an, Ngantung juga berkesempatan ikut serta dalam pameran bersama di Bataviasche Bond von Kunstkring, dan mendapat ulasan baik dari pers Belanda. Sejak saat itu, dia selalu aktif dalam pelbagai pameran, baik di masa pendudukan Jepang maupun masa Agresi Belanda. Baru pada Agustus 1948, Ngantung menggelar pameran tunggal di Hotel Des Indes, Jakarta.

Setelah saat itu, dia mengembara ke seluruh Indonesia untuk menyaksikan sendiri kehidupan bangsanya yang sedang berevolusi.

Karir Politik Ngantung dimulai pada 1957, saat ia duduk di berbagai Panitia maupun Lembaga Negara. Di luar dugaan dia diangkat menjadi Wakil Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta (1960-1964), kemudian ditunjuk Presiden Soekarno menjadi Gubernur DKI (1964-1965).

Bung Karno kala itu, ingin menjadikan Jakarta sebagai kota budaya dan bakat artistik yang dimiliki Ngantung dianggapnya cocok untuk merealisasikan keinginannya. Pengangkatannya ini sempat menuai protes karena Ngantung tergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan dianggap sebagai antek PKI. Peristiwa G 30 S PKI pun mengakhiri karir pemerintahan Henk.

Setelah lengser sebagai gubenur pun, cap sebagai antek PKI terus menempel dalam dirinya. Kondisi ini membuat kelangsungan hidup keluarganya menjadi susah.

Stigma komunis dan kesulitan ekonomi bahkan membuat Ngantung harus membawa istri serta empat anaknya, Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung pindah rumah dari kawasn Tanah Abang II ke Gang Jambu Nomor 25, sebuah gang sempit di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ngantung kembali hidup dengan menjual lukisan. Ngantung meninggal di Jakarta, pada 12 Desember 1991 akibat serangan jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kirinya hanya berfungsi 30 persen.

Sementara itu karya monumental Ngantung antara sketsa Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan lambang Kostrad TNI. Peninggalan terakhir Ngantung adalah sketsa bertajuk Ibu & Anak di Kalimantan, yang kini disimpan di salah satu tempat pelelangan, di London, Inggris.

Diolah dari berbagai sumber
(ded)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »