Kramat Tunggak, Lokalisasi Tersohor di Asia Tenggara

Rabu, 25 April 2012 14:10 wib | Stella Chrisfanni - Okezone

Ilustrasi (Foto: Agung/Okezone) Ilustrasi (Foto: Agung/Okezone) JIka Yogyakarta punya Pasar Kembang alias Sarkem, atau Gang Dolly di Surabaya dan Saritem di Bandung, sejarah Jakarta mencatat, pernah memiliki tempat prostitusi terbesar di Kramat Tunggak, Jakarta Utara.

Tempat ini merupakan lokalisasi tempat prostitusi yang sebelumnya tersebar di beberapa tempat, seperti Bina Ria dan Volker, yaitu deretan rel kereta api di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, lantas meresmikan Lokasi Rehabilitasi Sosial (Lokres) Kramat Tunggak. Nama Kramat Tunggak sendiri berasal dari nama Kramat yakni kawasan Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Sedangkan Tunggak, berarti batang pohon yang dipotong lalu ditancapkan di pinggir pantai untuk menambatkan perahu nelayan.

Para penjaja seks yang biasanya mangkal di kawasan Pasar Senen, Kramat, dan Pejompongan digiring ke Lokres Kramat Tunggak untuk dibina di Panti Sosial Karya Wanita Teratai Harapan. Di sini para pekerja seks komersial dan germonya mendapatkan pelatihan keterampilan serta siraman rohani dengan maksud agar mereka melepaskan profesinya.

Alih-alih praktik pelacuran berkurang, para germo justru melancarkan bujukan kepada para wanita tuna susila WTS) agar kembali menekuni profesi semula. Seiring berjalannya waktu, para germo pun membangun rumah-rumah di seberang panti. Para penjaja ‘nikmat sesaat’ ini pun kembali bekerja. Semakin hari jumlahnya juga kian bertambah.

Melihat perkembangan ini, Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin kemudian mengeluarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. Ca.7/I/13/1970 tanggal 27 April 1970, tentang Pelaksanaan Usaha Lokalisasi/Relokasi Wanita Tuna Susila serta Pembidangan dan Tanggung Jawab yang isinya menetapkan Lokasi Resosialisasi (Lokres) Kramat Tunggak.

Pada awal pembukaan, terdapat sekira 300 orang PSK dan 76 germo. Jumlah ini terus berkembang hingga namanya terkenal hingga di Asia Tenggara sebagai ‘pusat jajan terbesar bagi kaum hidung belang’. Lokalisasi ini meluas hingga menempati lahan mencapai hampir 12 hektare.

Pada dekade tahun 1980-1990, jumlah WTS telah mencapai lebih dari 2.000 orang di bawah kontrol sekira 258 germo. Hal ini dipertegas Suciardji, Kepala Panti Sosial Karya Wanita Teratai Harapan, bahwa Lokres Kramat Tunggak telah menghidupi 1.615 pekerja seks, 258 pengasuh alias mucikari, lebih dari 700 pembantu pengasuh, sekira 800 pedagang asongan, dan 155 tukang ojek. Belum lagi tukang cuci dan pemilik warung-warung makanan yang bertebaran di sekitarnya.

Para PSK, sebagian besar di antaranya datang dari daerah Indramayu, Subang, dan kawasan Pantai Utara Jawa. Awalnya mereka diajak oleh teman untuk mengadu nasib di Jakarta. Tergiur cerita betapa mudahnya uang didapatkan. Sesampainya di Jakarta mereka bingung karena tidak punya keterampilan. Namun perut tetap harus segera diisi dan desakan untuk menjadi ‘kupu-kupu malam’ pun diiyakan.

Pekerja seks Lokres Kramat Tunggak termasuk dalam golongan PSK menengah ke bawah. Para pengguna ‘jasa’ harus membayar Rp30 hingga Rp100 tiap sekali kencan. Harga itu belum termasuk sewa kamar. Diperkirakan penghasilan bersih rata-rata pekerja seks pada saat itu mencapai Rp200 per bulan.

Bisnis ‘lendir’ ini memang seperti tak pernah redup, hingga pada 1999, lokalisasi ini resmi ditutup. Penutupan dilatarbelakangi tiada akhirnya kekerasan dan premanisme di daerah ini. Perkelahian bahkan pembunuhan kerap terjadi. Perselisihan biasanya dipicu oleh rebutan lahan parkir, tersenggol saat mabuk juga ‘wanita’ langganannya yang ‘dipakai’ orang lain.

Para pelanggan Kramat Tunggak memang biasanya melanjutkan malam panjang dengan menenggak minuman berakohol. Seks, alkohol serta Narkotika menjadi ‘tiga serangkai’ di tempat ini.

Menjelang penutupan lokalisasi ini, tercatat 1.615 orang WTS dan 285 orang germo. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang terdiri dari 3.546 kamar. Sebelumnya mereka mendapat binaan terlebih dulu agar kelak keterampilan yang mereka dapatkan seperti menjahit, memasak,dan lainnya dapat mereka aplikasikan dalam hidup bermasyarakat.

Puncaknya, pada tanggal 31 Desember 1999 melalui SK Gubernur DKI Jakarta No 6485/1998, Lokres Kramat Tunggak resmi ditutup. Di atas lahan Lokres Kramat Tunggak sekarang dibangun Jakarta Islamic Centre (JIC), ide dari mantan Gubernur DKI Sutiyoso.
(ded)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »