Larisnya jajanan asal negeri ginseng

Senin, 03 Oktober 2011 12:01 wib | Brata (Sindonews) -

ilustrasi Kimchi Foto: Wordpress ilustrasi Kimchi Foto: Wordpress Sindonews.com - Demam produk asal negeri ginseng Korea Selatan rupanya tak hanya didominasi oleh dunia film dan musik. Kali ini demam makanan asal negeri pesepakbola Manchester United Park Ji Sung itu pun ikut mewabah di tanah air.

Jajanan ringan asal Korea Selatan saat ini cukup diminati oleh penggemar jajanan di tanah air. Adapun jajanan yang cukup diminati di Indonesia diantaranya snack, permen, mi instan, dan kue pie ini di impor langsung dari negeri asalnya Korea Selatan. Jajanan ini cukup diminati karena harganya yang relatif murah yaitu mulai dari harga Rp6.000-Rp80 ribu.

Marketing Manager Mu Gung Hwa, salah satu distributor serta perusahaan ritel asal Korea, Benny Santoso mengakui pasar di Indonesia sangat luar biasa untuk kelas jajanan ringan.

"Antusias masyarakat Indonesia terhadap kami sangat luar biasa, bisa dilihat kerumunan pengunjung di sini kan?" ujar pria bertubuh tegap ini dengan senyum lebar saat ditemui Sindonews di sebuah pameran kuliner, di Jakarta baru-baru ini.

Diakuinya, ketika pertama kali makanan Korea masuk ke Indonesia, harganya memang bersaing dengan makanan khas Indonesia yang lain. Khususnya mi instan. Harga untuk satu bungkus mi instan asal Korea dipatok hingga Rp15 ribu per bungkus sedangkan mi lokal kisaran harganya Rp1.200 per bungkus.

Mu Gung Hwa yang berada di bawah naungan PT Koin Bumi yang merupakan salah satu pemasok makanan ringan asal Korsel di Indonesia ini telah membuka lima Outlet di sekitaran Jabodetabek.

"Kami sudah punya lima outlet di Jabodetabek, selain itu produk yang kami jual juga tersebar di Supermarket-supermarket di Jabodetabek," ujar Benny.

Menurutnya, pangsa pasar untuk produk penganan asal Korea ini baru ada di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Jawa Timur, serta Bali dan akan dikembangkan hingga ke kawasan Indonesia Timur.

Adapun omzet yang dihasilkan bisnis ini tidak main-main, Benny mengaku bisa meraup Rp5 miliar tiap bulannya. Untuk melebarkan sayapnya, dalam waktu dekat Mu Gung Hwa akan mencoba merambah Jabodetabek dan sekitarnya.

"Dalam waktu dekat ini kami akan mencoba memasarkan ke daerah-daerah dulu, setelah itu baru kami akan meluaskan bisnis hingga Indonesia bagian timur karena kami lihat di sana merupakan pasar yang cukup potensial untuk mengembangkan bisnis ini," ungkap Benny.

Benny memperkirakan jika pangsa pasar makanan khas Korea akan terus tumbuh hingga 60 persen di tahun mendatang. "Saya lihat sekarang baru 30 persen. Saya usahakan bisa mencapai 50-60 persen di tahun mendatang," ungkapnya.

Benny pun makin percaya diri (pede) jika makanan Korea yang dijual berupa mi instan, biskuit, serta makanan lain akan semakin laku dipasaran karena makanan asal Negeri Gingseng ini adalah makanan yang unik. Menurutnya, makanan Korea banyak digemari karena makanan khas Korea merupakan makanan yang sehat karena di jamin bebas MSG dan juga bahan pengawet.

"Makanan kita adalah makanan sehat. Korea itu tidak ada makanan yang menggunakan MSG, dan tidak juga dibolehkan menggunakan pengawet," tutupnya.

Menjual makanan di negara mayoritas muslim tentunya diperlukan sertifikasi halal. Benny menuturkan jika produk yang dijualnya tersebut ada yang yang sudah bersertifikasi halal dari MUI, namun tidak semua produk bersertifikat halal.
(Brata (Sindonews)//and)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป