Melirik bisnis waralaba si Cendol de Keraton

Senin, 03 Oktober 2011 10:24 wib | Koran SI - Koran SI

ilustrasi Cendol de Keraton Foto: www.dekeraton.com ilustrasi Cendol de Keraton Foto: www.dekeraton.com Sindonews.com - Banyak usaha sukses yang bermula dari hobi. Faktor inilah yang membawa usaha kuliner tradisional Cendol de Keraton tumbuh dan berkembang hingga sekarang.

Meski demikian, pemilik Cendol de Keraton, Lai Moi (52), menyadari betul bahwa ketekunanlah yang justru menjadi kunci kesuksesannya. Lai Moi atau yang akrab disapa dengan panggilan Mee Mee memang seperti ditakdirkan menjadi seorang wirausaha. Sebelum mengelola bisnis kuliner, dia bersama suaminya pernah membuat usaha garmen sendiri hasil kerja sama dengan mitranya pada kurun 2006–2010.

Pengalamannya di bidang garmen diperoleh ketika pada awal bekerja dia menjadi karyawan di pabrik garmen selama 10 tahun. Namun, karena merasa ada sesuatu yang kurang pas, Mee Mee memutuskan tidak melanjutkan kerjasama dengan mitra usaha patungannya. "Saya dan suami menganggap usaha garmen itu terlalu ribet dan juga kebetulan ada ketidakcocokan dengan partner, jadi saya memutuskan untuk keluar dari bisnis itu," ujarnya kepada Koran Sindo pekan lalu.

Lepas dari usaha garmen, Mee Mee mencoba bisnis lampu kristal pada 2002. Ini juga berkat hobinya yang gemar mengoleksi batu-batuan alam dan kristal bersama suaminya. Dari usahanya ini, perempuan kelahiran Solo, 3 April 1959 itu mengaku cukup puas karena dari hari ke hari semakin banyak pelanggan yang mendatangi showroom-nya.

"Kebetulan suami dan karyawan saya mengerti tentang energi kristal, jadi kami bisa sharing pengetahuan bagaimana memanfaatkan kristal untuk fengshui, meditasi, terapi, dan penyembuhan penyakit," ungkapnya. Selama bisnis kristal berjalan, suami Mee Mee masih memikirkan usaha apa lagi yang ingin digeluti sampai akhirnya terpikir minuman es cendol dijadikan sebuah peluang bisnis.

Menurut Mee Mee, suaminya memang sering minum es cendol. Di mana ada es cendol yang enak, pasti dia menyempatkan datang dan mencoba. Dari situlah muncul ide untuk mencoba usaha cendol. Dia menambahkan, secara tidak sengaja suaminya mendapatkan resep cendol sehingga semakin memantapkan langkah dan keyakinan bahwa usaha kuliner tradisional tersebut bisa sukses.

Rupanya insting bisnis Mee Mee dan suaminya benar. Lihat saja omset usaha cendolnya yang kini sudah mencapai Rp210 juta per bulan dan mempekerjakan 35 karyawan. Dengan modal awal yang tidak terlalu besar, Mee Mee mulai menggarap konsep usaha cendol yang dinamakan Cendol de Keraton pada 2007 lalu.

Awalnya dengan membuat beberapa porsi cendol yang dijual di depan toko kristal miliknya di Bogor. Adapun nama Cendol de Keraton terinspirasi dari asal kota kelahiran Mee Mee, yaitu Solo, Jawa Tengah. "Kalau Solo kan identik dengan keraton, jadi saya namakan saja Cendol de Keraton," tuturnya.

Mee Mee mengungkapkan, dulu cendol yang dia buat tidak terlalu laku dijual karena orang belum tahu rasa cendol buatannya. "Cendol yang laku terjual tidak sampai semuanya," imbuh dia. Meskipun begitu, Mee Mee dan suami tidak putus asa melakoni usaha barunya. Dia tetap tekun dan ulet dalam menjalankan bisnis cendol tersebut.

Termasuk ketika satu-satunya karyawan yang membatunya usaha mulai dari pembuatan sampai penjualan mengundurkan diri. Karyawan itu, menurut Mee Mee, sebenarnya merasa kasihan kepadanya karena harus tetap membayar gaji bulanan, sedangkan cendolnya tidak terlalu laku terjual.

Namun, dengan keinginan kuat untuk membuka usaha cendol. Selain ketekunan dan keuletan dia terus berusaha meningkatkan kualitas cendolnya agar lebih diterima pembeli. "Buat saya cendol yang tidak laku bukan masalah, yang penting karyawan saya mahir membuat cendol yang nantinya bisa untuk kelebihan yang dia punya," papar Ibu satu anak tersebut.

Melihat usahanya berjalan di tempat, Mee Mee pun mengubah strategi bisnisnya. Bukan sekadar menjual cendol, dia pun rajin meminta pendapat orang-orang terdekatnya, yaitu teman-temannya, sampai dirasa berhasil. Akhirnya cendol buatan Mee Mee makin disukai dan makin banyak terjual.

Pesanan pun mengalir deras, mulai dari acara keluarga sampai acara di tempat ibadah. "Awalnya pernah dapat pesanan 500 porsi, saya sampai tidak tidur semalaman gara-gara kerepotan membuatnya," ungkap Mee Mee sembari tertawa. Inovasi-inovasi terbaru pun terus Mee Mee lakukan bersama suaminya.

Menurutnya, inovasi itu penting karena dapat meningkatkan citarasa dari cendolnya dan memajukan usahanya. Dari situ Mee Mee memutuskan membuat cendol yang sehat. Untuk mewujudkannya, Mee Mee rajin membaca buku, majalah, dan browsing internet untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Usaha Cendol de Keraton yang ditekuni Mee Mee selama empat tahun tersebut kini membuahkan hasil. Outlet-nya pun tak hanya di Bogor, tetapi sudah mencapai 45 unit dan tersebar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bogor, Depok, Karawang, Bekasi, Cikarang, Bandung, Cirebon.

Dalam menjalankan bisnisnya, Mee Mee dibarengi niat ingin melestarikan minuman tradisional cendol. Di samping itu, dia juga ingin usahanya memberikan kesempatan kepada orang lain agar turut merasakan keuntungan.

Maka, dipilihkan sistem kemitraan melalui franchise sebagai upaya mengembangkan bisnisnya. Dia mengakui, dari awal memulai usaha dia dan suaminya meyakini tidak akan bisa menanganinya jika kemudian berkembang menjadi besar. Mee Mee menjelaskan, sistem franchise Cendol de Keraton tidak terlalu sulit.

Hanya bermodalkan Rp3,5 juta, mitra usahanya sudah bisa mendapatkan peralatan yang dibutuhkan untuk berjualan seperti mulai dari outlet, seragam penjual, kursi rotan, banner, brosur hingga mendapatkan 50 porsi produk awal. "Saya ingin nama dan produk Cendol de Keraton dikenal luas bukan hanya dikenal sekarang, tetapi juga dikenal sampai anak cucu nanti," ujarnya.

Mee Mee mengaku, pernah ada mitranya dalam dua bulan membuka lima outlet berturut-turut. Hal itu cukup mengejutkan sekaligus baik karena lebih banyak outlet yang dibuka. Usaha cendol lewat outlet pertamanya di Bogor tersebut telah mendapat banyak penghargaan, antara lain Usaha Kecil Menengah (UKM) Potential Awards 2010 dari Bank Jabar Banten, UKM Enterpreuner Award in Inovation 2010 dari Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Most Inspired People Award 2011 dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bekerjasama dengan Guttenheartz Organizer dan Indonesia Global Foundation.

Selain mendapat banyak penghargaan yang membuktikan bahwa usahanya tidak main-main, Mee Mee juga rajin mengikutsertakan Cendol de Keraton dalam pameran-pameran. Mee Mee dan suami beranggapan minuman tradisional seperti cendol hanya disukai oleh orangtua saja. Namun seiring berjalannya waktu, cendolnya disukai oleh berbagai kalangan dari orang tua, remaja sampai anak-anak.

Melihat respons yang begitu besar, Mee Mee membuat inovasi baru untuk produknya. Mee Mee membuat cendolnya bukan hanya rasa original, melainkan dengan memakai varian rasa seperti cendol rasa durian, nangka, dan cendol dengan es krim.

Anda tertarik? Silakan cari tahu di www.dekeraton.com

(Koran SI/Koran SI/and)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป