Bulan Celurit Api

Minggu, 24 Oktober 2010 12:07 wib | Arpan Rachman - Okezone

Bulan Celurit Api

Judul: Bulan Celurit Api
Karya: Benny Arnas.
Jumlah: 130 halaman
Dimensi: 140 mm x 210 mm
Penerbit: Koekoesan
Edisi: I (Pertama) Oktober 2010
ISBN: 978-979-1442-36-7


Ai, tak ada gunanya itu, bila bunga yang baru dipetik bentuknya saja yang serupa mawar, tapi baunya lebih jadah dari tahi ayam!
- Benny Arnas,
Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta (Bulan Celurit Api, 2010)

BUKU kumpulan cerpen (cerita pendek) karya Benny Arnas Bulan Celurit Api (BCA) memuat tiga belas cerpen. Diakui cerpenis itu ke-13-nya sebagai “Cerpen-cerpen terbaik saya setelah kurang lebih dua tahun mengarang cerpen.”

Kesemua cerpen, yang terangkum pada senarai cerita, masing-masing: Bulan Celurit Api (halaman 19), Percakapan Pengantin (27), Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan (35), Bujang Kurap (43), Hari Matinya Ketib Isa (51), Kembang Tanjung Kelopak Tujuh (59), Malam Rajam (67), Tukang Cerita (75), Surat-sajak yang Mengantarmu Pulang (83), Dua Beranak Temurun (91), Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta (101), Anak Ibu (109), dan Perkawinan Tanpa Kelamin (119).

"Seluruhnya kisah yang mengambil tema tentang kampung halaman," kata Benny Arnas sesaat sebelum acara peluncuran bukunya di Galeri Seni, Komplek Graha Budaya, Jakabaring, Palembang, Sabtu (23/10/2010).

Kecuali cerpen terakhir yang belum pernah dipublikasikan, 12 cerpen dalam BCA sebelumnya telah lebih dulu terbit di beberapa media. Cerpen yang sejudul dengan tajuk antologi ini meraih juara terbaik ketiga Piala Balai Bahasa 2009. Sedangkan judul-judul selebihnya semula dimuat Koran Tempo, Jawa Pos, Kompas, Dekar Journal, Republika, Jurnal Nasional, Suara Merdeka, dan Suara Pembaruan.

Kompilasi ala Benny memainkan gaya tarik-menarik antara globalisasi dalam lokalitas dan sekaligus lokalisasi dalam globalitas. Seperti terbaca di dalam cerpennya, Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta, di halaman 101 sampai halaman 108. Adat kampung masih tampak kentara dalam cerpen ini.

Tokoh Siti harus rela jadi janda setelah dinikahi Romli semalam saja. Di malam pengantin, pengantin lelaki mendapati bahwa istrinya tidak perawan. Dalam sehari-semalam Siti sekaligus menerima dua kenyataan menyakitkan, dia diikat ijab kabul dan dijatuhi talak tanpa perasaan.

Tapi ada sedikit hal juga yang patut disayangkan dari stamina kuat kreativitas Benny Arnas. Lantaran dalam cerpen Kembang Tanjung Kelopak Tujuh (halaman 59-66), dia terkesan berlebihan menurunkan catatan kaki hingga 13 butir sebagai jukstaposisi (penjelasan tambahan): sebuah usaha kodifikasi subjektif yang dia coba uraikan untuk memberi pengertian lebih banyak.

Itulah, penyakit para pengarang fiksi yang kerap membayangkan publik pembaca imajinernya hanya tahu sedikit saja ihwal mengenai khasanah lokal (locus genus) yang tersaji dalam sebuah cerita. Tidak hanya Benny, cerpenis lain juga dalam hal ini, merasa harus menyiapkan catatan kaki yang dibayangkan akan dapat mengimbuhkan eksplanasi kepada para pembaca mereka. Padahal footnote bukan poin yang lazim dalam fiksi. (mbs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »